Loading...

Rabu, 27 Mei 2009

Kajian kelayakan dan skala ekonomi usaha peternakan sapi potong dalam rangka pemberdayaan peternak (studi kasus di kawasan budidaya pengembangan sapi

embangunan sub sektor peternakan memiliki nilai strategis dalam pemenuhan kebutuhan manusia yang terus mengalami peningkatan seiiring dengan pertambahan penduduk, peningkatan pendapatan per kapita serta taraf hidup masyarakat. Sebagai salah satu Propinsi yang merupakan daerah berpotensi untuk pengembangan usaha peternakan, Propinsi Riau mempunyai lahan yang masih luas dengan ketersediaan hijauan melimpah yang merupakan salah satu daya dukung besar dalam pengembangan peternakan, sementara pertumbuhan ekonominya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional merupakan peluang dari sisi permintaan. Kabupaten Kampar sebagai salah satu kantong ternak untuk penyediaan bibit dan produksi daging di Propinsi Riau mempunyai potensi alam yang mendukung untuk pengembangan peternakan. Kabupaten Kampar mempunyai lokasi yang paling dekat dengan Ibukota Propinsi Riau sebagai tempat pemasaran. Peternakan sapi potong merupakan peternakan yang paling banyak dipelihara sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan produksi protein hewani sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan peternak yang memeliharanya, namun dengan skala usaha peternakan rakyat yang minimal akan sangat sulit mencapai kedua hal tersebut.

Tujuan penelitian ini adalah : (1) mendeskripsikan karakteristik dan komposisi skala usaha peternakan sapi potong di Kabupaten Kampar saat ini. (2) mengkaji pendapatan usaha peternakan sapi potong dengan komposisi skala usaha, kecil, sedang dan besar (3) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha peternakan sapi potong. (4) mengkaji rata-rata kebutuhan hidup keluarga peternak dan tingkat kesejahteraanya untuk hidup layak. (5) menganalisis status kelayakan usaha peternakan sapi potong pada setiap skala usaha. (6) menganalisis upaya yang perlu dilakukan oleh Dinas Peternakan dalam ranka pemberdayaan peternak untuk mencapai skala pemeliharaan yang layak bagi usaha peternakan sapi potong.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kasus (studi kasus) melalui riset deskriptif dengan pendekatan observasi dan survei. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner kepada peternak sapi potong dan juga dengan pengambil keputusan. Pengambilan sampel peternak menggunakan metode simple random sampling dan membagi hasil sampel yang diperoleh atas tiga skala usaha berdasarkan jumlah kepemilikan ternak sapi potong yaitu skala usaha kecil (1-5 ekor) sebanyak 57 responden, skala sedang (6-10 ekor) sebanyak 20 responden dan skala besar (> 10 ekor) sebanyak 11 responden. Sedangkan untuk responden pengambil keputusan menggunakan metode purposive sampling yaitu memilih dengan sengaja pengambil keputusan yang berwenang dan diperoleh delapan responden.

Analisis yang dilakukan meliputi : (1) Analisis deskriptif mengenai karakter peternak dan usaha ternak, (2) Analisis usaha yang terdiri dari analisis biaya produksi, penerimaan dan analisis pendapatan usaha, (3) Analisis Skala Ekonomi (economic of scale), (4) Analisis faktor-faktor keberhasilan usaha dengan regresi berganda, (5) Analisis Kelayakan yang terdiri dari kelayakan menurut persepsi peternak dan kelayakan secara finansial melalui pendekatan cash flow untuk menghitung NPV, Net B/C, IRR dan PBP dan dilanjutkan dengan Analisis Sensitifitas, (6) Analisis Skala Pemeliharaan Yang Memenuhi Standar Kebutuhan Minimal yaitu USD 1.500 per KK per tahun, dan (7) Perumusan alternatif strategi untuk pemberdayaan peternak dilakukan dengan Analisis SWOT.

Berdasarkan karekteristik peternak yang teramati dalam penelitian ini yaitu umur, pendidikan, pengalaman beternak, mata pencaharian, dan motivasi beternak maka dapat ditelaah bahwa peternak sapi potong pada lokasi penelitian pada setiap skala didominasi oleh usia produktif (35 - 55 tahun). Peternak sapi potong umumnya menganggap bahwa usaha peternakan yang dilakukan bukan merupakan mata pencaharian utama, peternakan hanya merupakan pekerjaan sampingan. Pada skala I tidak ada peternak yang menjadikan usaha ternak sapi sebagai mata pencaharian utama, pada skala II hanya 10 % dari peternak yang menjadikan usaha ternak sapi sebagai mata pencaharian utama, sedangkan pada skala III meningkat menjadi 36.36 %.

Dari karekteristik usaha dapat dikaji rata-rata kepemilikan sapi potong sebanyak 3 + 1 ekor pada skala I (kecil), 7 + 1 ekor pada pemeliharaan skala II (sedang) dan 17 + 8 pada skala III (besar). Variasi jumlah kepemilikan sapi potong secara keseluruhan berkisar antara satu ekor sampai 35 ekor. Tujuan pemeliharaan yang dilakukan peternak terkait dengan cara memelihara dan komposisi ternak yang dimiliki. Jumlah ternak jantan muda yang dimiliki merupakan indikasi usaha pemeliharaan dengan tujuan penggemukan (fattening) dan jumlah induk betina sebagai indikasi usaha pemeliharaan sapi potong bibit dengan tujuan budidaya (breeding). Pada skala I dan II peternak lebih banyak bertujuan untuk breeding sekitar 61.40 % dan 50 %, sedangkan pada skala III tujuan pemeliharaan yang banyak dilakukan peternak mulai mengarah ke fattening (45.45 %) walaupun tujuan pemeliharaan campuran persentasenya lebih tinggi (54.55 %) namun indikasi mengarah ke fattening terlihat dari tidak adanya tujuan pemeliharaan khusus untuk breeding (0 %).

Analisa biaya produksi menunjukkan persentase total biaya tetap dibandingkan dengan total biaya produksi pada setiap skala cenderung menurun dengan meningkatnya skala usaha, pada skala I persentase total biaya tetap 6,69%, pada skala II 6.09% dan menurun pada skala III menjadi 2.86 %. Hal ini menunjukkan bahwa dengan meningkatnya skala usaha kebutuhan biaya tetap cenderung menurun walaupun secara nominal biaya tetap meningkat. Biaya produksi terbesar adalah biaya variabel untuk pembelian bakalan, kemudian pakan dan tenaga kerja. Peternak juga perlu memasukkan semua biaya usaha baik biaya kas maupun non kas agar semua biaya produksi dapat diperhitungkan sehingga dapat mengantisipasi biaya yang tidak diperlukan seperti biaya non kas yang selalu dianggap bukan biaya produksi, padahal jika dimasukkan sebagai biaya, usaha tersebut sebenarnya dalam keadaan rugi.

Dari perhitungan analisis pendapatan, diketahui bahwa pada skala kecil (I) pendapatan rata-rata peternak dari hasil usahanya selama satu tahun sebesar Rp. 1.355.162,- pada skala sedang (II) meningkat menjadi Rp. 3.384.338,- dan pada skala besar (III) pendapatan rata-rata peternak menjadi Rp. 14.018.203,-. Terdapat kecenderungan peningkatan pendapatan akibat dari peningkatan skala usaha. Sedangkan dari analisis skala ekonomi diperoleh bahwa usaha peternakan sapi potong dengan mengkaji kurva longrun average cost (LRAC) didapatkan skala ekonomi pada pemeliharaan skala II yaitu pada pemeliharaan lima sampai delapan ekor sapi potong.

Dari tujuh variabel bebas yang semula diduga dapat mempengaruhi keberhasilan usaha, ternyata hanya empat variabel yaitu tingkat efisiensi, jumlah sapi betina produktif, jumlah sapi bakalan dan manajemen yang berpengaruh secara siginfikan pada alpha 0.05 dan 0.1. Dengan analisa regresi diketahu bahwa fungsi keberhasilan usaha ternak sapi potong pada penelitian ini mempunyai koefisien determinasi (R2 = 0.96), menunjukkan bahwa variabel bebas yang diduga dapat menjelaskan 96 % variasi variabel tak bebas, hanya empat persen yang tidak dapat dijelaskan. Dengan demikian hubungan antara variabel tak bebas dan variabel bebasnya telah dimodelkan dengan baik. Model persamaan regresinya dapat dituliskan sebagai berikut :

Y = -4.194.552,00 + 2.544.530,50 X1 + 370.183,34 X3 + 589.609,63 X4 + 973.621,54D

Dari analisa persepsi peternak, ketiga skala usaha tersebut tidak ada yang dapat memenuhi kebutuhan hidup peternak dan keluarganya. Sisa hasil usaha yang diperoleh semuanya menunjukkan tanda negatif. Pada penilaian kriteria kelayakan secara finansial, skala usaha yang layak bagi usaha ternak sapi potong adalah pada skala besar, sedangkan pada skala kecil dan sedang tidak layak secara financial. Dengan membandingkan nilai NPV pada ketiga skala usaha tersebut terhadap standar minimal kehidupan yang diharapkan untuk mengetahui kelayakan skala pemeliharaan, dapat ditelaah ternyata dari ketiga skala tersebut belum dapat memenuhi standar minimal yang diinginkan namun ada indikasi kenaikkan skala usaha cenderung meningkatkan pendapatan, sehingga untuk mencapai standar tersebut dapat dilakukan dengan terus meningkatkan skala usaha sampai jumlah pemeliharaan ternak yang layak untuk diusahakan oleh seorang peternak sapi potong.

Dalam usaha mencapai skala pemeliharaan yang dapat memenuhi standar minimal kebutuhan hidup keluarga peternak diperlukan beberapa upaya pemberdayaan peternak yang disesuaikan dengan visi, misi, tujuan dan sasaran yang ingin dicapai pemerintah Kabupaten Kampar dalam hal ini Dinas Peternakan Kabupaten Kampar. Dari analisa SWOT yang dilakukan dalam penelitian ini didapatkan beberapa alternatif strategi diantaranya meningkatkan kemampuan peternak baik dari segi teknis maupun non teknis dengan berbagai pelatihan, penyuluhan dan pembinaan secara kontinyu, melakukan kerjasama diantara peternak, pemerintah dan swasta dalam hubungan kerjasama yang saling menguntungkan, memberikan dorongan berupa penambahan jumlah ternak untuk membantu peningkatan skala usaha kepada peternak yang berpotensi, melakukan rekayasa kelembagaan melalui titip kelola agar tercapai skala usaha yang layak, juga memusatkan kawasan pengembangan ternak terpadu sehingga lebih memudahkan pembinaan, membentuk kelompok-kelompok usaha untuk mengantisipasi posisi tawar menawar peternak, membentuk sistem informasi pasar yang terjadwal dan mudah dijangkau, dan membuat pasar ternak sebagai upaya memanfaatkan peluang pasar.

Kesimpulan dari penelitian ini secara umum adalah usaha ternak sapi potong di Kabupaten Kampar merupakan usaha yang dapat terus dilakukan karena masih memberikan kontribusi bagi pendapatan keluarga dan telah mencapai skala ekonomi (economic of scale) pada jumlah pemeliharaan lima sampai delapan ekor. Namun secara pencapaian standar minimal kebutuhan hidup keluarga peternak belum memenuhi harapan, sehingga diperlukan berbagai upaya seperti perbaikan manajemen dan efisiensi biaya serta melakukan upaya pemberdayaan peternak dan usahanya, baik oleh pemerintah, swasta maupun peternak itu sendiri. Ada indikasi bahwa kenaikan skala usaha menyebabkan usaha semakin layak, terlihat dari kelayakan secara finansial pada skala besar (III) dan pendapatan yang semakin meningkat. Dengan demikian skala usaha peternakan sapi potong rakyat masih dapat terus ditingkatkan sampai mencapai skala pemeliharaan yang layak secara ekonomi dan finansial.

Implikasi manajerial yang dapat disarankan secara keseluruhan adalah (1) Peternak memahami perhitungan analisis biaya dan pendapatan untuk mengetahui kondisi peternak dalam keadaan rugi atau tidak dan juga untuk mengantisipasi biaya yang menyebabkan kerugian (2) Meningkatkan efisiensi biaya dengan mengurangi pengeluaran untuk biaya non kas dan mengoptimalkan sumberdaya yang ada dan meningkatkan produksi dengan perbaikan reproduksi dan mutu pakan. (3) Peningkatan penerimaan dengan menaikkan nilai penjualan ternak yang dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas ternak. (4) Menaikkan harga jual ternak agar diperoleh penerimaan yang layak bagi peternak sapi dengan memperbaiki pemasaran seperti informasi pasar dan membuat pasar ternak.(5) Peningkatan skala usaha melalui penambahan modal usaha, seperti menjalin kerjasama dengan lembaga keuangan dan investor, atau peternak membentuk kelompok usaha dan bergabung menjadi skala usaha yang lebih besar. (6) Strategi pemberdayaan peternak sapi potong tidak hanya dilakukan oleh pemerintah tetapi juga melibatkan peternak itu sendiri dan pihak swasta dengan melakukan kerjasama yang saling menguntungkan.

PMAP UGM GELAR PELATIHAN MANAJEMEN PEMELIHARAAN SAPI POTONG”

Akhir-akhir ini, sapi potong menjadi salah satu pilihan komoditas yang diyakini bisa menjadi sumber pendapatan keluarga. Proses pemeliharaan sapi potong cukup mudah dilakukan. Namun, yang menjadi permasalahan adalah pemeliharaan yang dilakukan para peternak. Beberapa peternak belum memiliki orientasi bahwa beternak sapi potong bisa menjadi sumber pendapatan utama. Sehingga menjadi masuk akal jika pemeliharaan sapi potong selama ini masih terkesan asal-asalan.

Berbicara mengenai manajemen pemeliharaan sapi potong, mau tidak mau harus berbicara proses pemeliharaan sapi potong, dari hulu sampai ke hilir. Banyak hal yang harus diketahui, dari pemilihan bibit, pemberian pakan, sampai pada pemasaran. Permasalahan-permasalahan semacam ini tentu saja belum banyak diketahui para peternak sapi potong. Oleh karena itu, Pusat Magang dan Pelatihan Agribisnis Peternakan (PMPAP) sebagai lembaga yang dibentuk oleh Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada menggelar pelatihan setengah hari mengenai manajemen pemeliharaan sapi potong.

Pelatihan berlangsung di Ruang Sidang Besar (RSB) Fakultas Peternakan UGM hari Rabu, 22 Maret 2006. Peserta pelatihan berasal dari para peternak di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Seperti dituturkan ketua penyelenggra pelatihan R. Ahmad Romadhoni SP, S.Pt., sebanyak 60 peternak se DIY mengikuti pelatihan ini. “Kami terkejut, ternyata sambutan peternak di DIY sangat luar biasa. Peserta datang dari seluruh kabupaten/kota yang ada di Yogyakarta.”, ujar Ahmad R.

Sedangkan, Ir. Rusman, MP., Ph.D selaku Direktur Eksekutif PMPAP mengungkapkan, Pelatihan manajemen Pemeliharaan Sapi Potong untuk para peternak di DIY ini, merupakan pengalaman pertama bagi PMPAP semenjak berdiri setahun lalu. Pelatihan yang dibagi tiga sesi ini mengundang pembicara ahli, antara lain Prof. Dr. Ir. Nono Ngadiyono, MS yang berbicara mengenai manajemen usaha sapi potong dari masalah pemilihan bibit sampai pada perhitungan analisis ekonomi di sesi pertama. Kemudian di sesi kedua hadir Ilham Ahmadi, SE seorang praktisi dari dunia tataniaga sapi potong yang mengupas mengenai prospek dan peluang bisnis sapi potong di Indonesia. Sementara itu, di sesi penutup hadir Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA yang berbicara mengenai manajemen pakan sapi potong.

Disela-sela pelatihan disampaikan pula hasil-hasil penelitian terbaru dan aplikatif yang telah dilakukan Fakultas Peternakan UGM. Pemaparan ini merupakan wujud konsistensi Fakultas Peternakan UGM untuk terus memajukan dunia peternakan di Indonesia. Sebagaimana yang disampaikan Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Dr. Ir. Tri Yuwanta, SU.,DEA. saat membuka acara: “Sudah saatnya Perguruan Tinggi melakukan proses pembelajaran tentang keilmuannya bukan hanya pada mahasiswa namun juga pada masyarakat umum sebagai perwujudan pengabdian kepada masyarakat.”

Lebih lanjut Ahmad Romadhoni mengungkapkan, bila kenyataan banyak dari masyarakat umum yang ingin belajar tentang peternakan. Hal ini tentu menjadi tanggungjawab Fakultas Peternakan UGM dan sekaligus menjawab tantangan tersendiri. “Dan ini menjadi peluang bagi PMPAP untuk melakukannya. Fakultas telah merencanakan bahwa pelatihan seperti ini akan terus diadakan dan dikembangkan, sekaligus kita akan memperluas sasaran bukan hanya para peternak tetapi juga masyarakat luas yang membutuhkan pelatihan seperti ini”, tandas Ahmad Romadhoni (Humas UGM).

Yogyakarta, 22 Maret 2006

Direktur Eksekutif PMPAP

Ir. Rusman, MP., Ph.D.

Kereman

Sistem kereman untuk penggemukan sapi potong saat ini digunakan oleh perusahaan sapi potong di kabupaten Wonosobo dan Sragen. Di lain pihak, harga pakan konsentrat mahal dan beberapa komponen pakan untuk formula pakan sapi potong oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah susah diperoleh. Sejalan dengan itu, formulasi pakan murah perlu diadakan sebagai suatu alternatif terhadap konsentrat komersial. Solusinya adalah dengan memanfaatkan bahan pakan lokal. Pengkajian ini bertujuan untuk mengevaluasi formulasi pakan menggunakan bahan lokal untuk penggemukan sapi potong. Pengkajian dilakukan secara kolaboratif dengan swasta sebagai embrio perusahaan daerah dan dilaksanakan dalam dua percobaan. Percobaan 1. - Percobaan pakan di Wonosobo menggunakan 15 ekor sapi jantan hasil persilangan Simental ><>

Petunjuk Teknis Teknologi Inovasi Pakan Murah Untuk Usaha Pembibitan Sapi Potong

Loka Penelitian Sapi Potong merupakan Unit Pelaksana Teknis Badan Litbang Pertanian yang dibentuk pada tahun 2002, berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Puslitbang Peternakan, mempunyai tugas pokok diantaranya melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan aspek nutrisi, peningkatan mutu, dan pemanfaatan biomas lokal sebagai pakan sapi ng. Usaha peternakan sapi potong di Indonesia didominasi oleh system usaha pemeliharaan induk-anak sebagai penghasil bakalan/ pedet (calf cow operation) Hampir 90 persen usaha ini dilakukan oleh peternak rakyat, pada umumnya belum menerapkan konsep usaha yang intensif. Usaha ini kurang diminati oleh pemodal karena dianggap secara ekonomis kurang menarik dan dibutuhkan waktu pemeliharaan cukup panjang. Paradigma pembangunan peternakan pada era globalisasi adalah terwujudnya masyarakat yang sehat dan produktif serta kreatif melalui peternakan tangguh berbasis sumber daya lokal. Program aksi untuk mewujudkan swasembada daging sapi pada tahun 2010 antara lain dapat dilakukan melalui kebijakan teknis pegembangan agribisnis sapi pola integrasi tanaman ternak berskala besar dengan pendekatan berkelanjutan dengan biaya murah dan optimalisasi pemanfaatan limbah atau yang dikenal dengan istilah low external input sustainable agriculture (LEISA) dan zero waste , terutama di wilayah perkebunan. Kegiatan operasional untuk pengembangan usaha perbibitan sapi potong yang murah dan efisien dapat dilakukan secara terintegrasi dengan perkebunan, tanaman pangan dan memanfaatkan sumber pakan biomas lokal. Melalui inovasi teknologi limbah dan sisa hasil ikutan agroindustri pertanian dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan sapi yang potensial untuk usaha penggemukan dan pembibitan (Badan Litbang Pertanian, 2005). Bahan pakan asal biomas lokal yang berharga murah pada umumnya bersifat serta mempunyaiketerbatasan kualitas karena kandungan protein, TDN, palatabilitas dan kecernaan yang rendah dapat digunakan secara optimal sebagai pakan basal dan telah terbukti selain dapat menurunkan biaya ransum juga mampu meningkatkan produktivitas ternak. Teknologi inovasi “pakan murah” untuk usaha pembibitan sapi potong lokal diharapkan dapat memenuhi target : Menekan kematian pedet pra-sapih kurang dari 3%,

Jarak beranak selambat-lambatnya dari 14 bulan,

Laju pertambahan bobot badan harian (PBBH) pedet s.d. disapih umur 7 bulan sekurang-kurangnya 0,4 kg,

Skor kondisi tubuh (kegemukan) induk selama menyusui dalam kategori sedang .

Usaha pembibitan sapi potong lokal dapat memberikan keuntungan ekonomis. bulky

Minggu, 24 Mei 2009

Penggemukan sapi potong

Pembangunan sub-sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian yang bertujuan untuk mencapai suatu kondisi peternakan yang tangguh, yang dicirikan dengan kemampuan mensejahterakan para petani peternak dan kemampuannya dalam mendorong pertumbuhan sektor terkait secara keseluruhannya. Pembangunan peternakan diarahkan untuk meningkatkan mutu hasil produksi, meningkatkan pendapatan, memperluas lapangan kerja serta memberikan kesempatan berusaha bagi masyarakat di pedesaan. Peternakan yang tangguh memerlukan kerja keras, keuletan dan kemauan yang kuat dari peternak itu sendiri agar mencapai tujuan yang diinginkan. Keberhasilan yang ingin dicapai akan memacu motivasi peternak untuk terus berusaha memelihara ternak sapi secara terus menerus dan bahkan bisa menjadi mata pencaharian utama. Usaha ternak sapi potong dapat dikatakan berhasil bila telah memberikan kontibusi pendapatan dan dapat memenuhi kebutuhan hidup peternak sehari-hari, hal ini dapat dilihat dari berkembangnya jumlah kepemilikan ternak, pertumuhan berat badan ternak dan tambahan pendapatan keluarga. Agar usaha ternak sapi potong menghasilkan sapi berkualitas, peternak harus meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka dalam beternak sapi potong, antara lain: (1) Memilih bibit/bakalan yang baik; (2) Sistem pemeliharaan; (3) Pemberian pakan yang baik; (4) Pengawasan terhadap kesehatan ternak serta pengetahuan serta keterampilan yang tidak kalah pentingnya adalah (5) Pengolahan/penanganan pra dan pasca panen. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berusaha ternak sapi potong. Sarana dan Prasaranaa. Lokasi Dalam pemilihan lokasi untuk usaha ternak sapi potong sebaiknya jauh dari pemukiman masyarakat dan memiliki akses ke pasar serta letak dan ketinggian lokasi harus diperhatikan letak dan ketinggiannya terhadap lingkungan sekitar sehingga tidak mencemari lingkungan sekitarnya. b. Lahan Status lahan harus sesuai dengan peruntukannya menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. Penyediaan air dan alat penerangan Air merupakan kebutuhan utama makhluk hidup, baik manusia maupun ternak untuk itu dalam penggunaan air harus memperhatikan baku mutu air yang sehat yang dapat diminum oleh manusia dan ternak serta tersedia selalu sepanjang tahun. Sediakan juga penerangan listrik yang cukup setiap saat sesuai dengan kebutuhan dan peruntukannya. d. Kandang Pembuatan kandang harus sesuai dengan kebutuhan dan kegiatan dalam pemeliharaan sapi potong antara lain: (1) Kandang penggemukan; (2) Kandang isolasi ternak sakit; (3) Gudang pakan dan peralatan; (4) Unit penampungan dan pengolahan lahan. Konstruksi kandang harus kuat dan nyaman serta memiliki daya tampung dan pertukaran udara harus terjamin, lantai kandang harus kuat dan tidak licin, untuk bangunan gudang pakan harus terjamin kebersihan dan kehygienisan gudang agar pakan tetap sehat dan hygienis. Tata letak kandang dan bangunan lain harus memperhatikan: 1. Peternakan harus mempunyai satu pintu keluar masuk yang dilengkapi kolam desinfektan. 2. Letak kandang dan bangunan lain harus diperhatikan guna mempermudah dalam pengerjaan dan kegiatan sehari-hari. 3. Letak kandang isolasi harus di belakang dan agak jauh dari bangunan lainnya. 4. Jarak antar bangunan yang bukan kandang minimal 25 meter. 5. Bangunan untuk pekerja (tempa tinggal) serta hal-hal pekerjaan yang berhubungan dengan administratif harus terpisah dari kandang. e. Bibit Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan bibit adalah sebagai berikut: 1. Bakalan sapi khusus untuk digemukkan dapat berasal dari sapi lokal/impor, serta hasil IB (Inseminasi Buatan). 2. Sapi bibit harus sehat. f. Pakan Dalam pemberian pakan harus memperhatikan: 1. Pakan harus baik yang bersala dari hijauan/rumput maupun pakan konsentrat/penguat yangdibuat sendiri atau dari pabrik. 2. Bahan campuran pakan harus diperoleh dari sumber yang telah mendapat izin. Ransum yang digunakan tidak terkontaminasi penyakit, stimulan pertumbuhan, hormon dan bahan kimia. g. Obat-obatan 1. Obat-obatan, bahan kimia dan bahan biologik harus menggunakan yang sudah terdaftar. 2. Penggunaan obat harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku. h. Tenaga Kerja 1. Tenaga kerja harus berbadan sehat. 2. Pekerja harus disediakan perlengkepan keselatan kerja. Proses Produksia. Pemilihan Bibit Kriteria bibit sapi bakalan yang harus dipenuhi antara lain: 1. Bangsa sapi murni atau persilangan 2. Umur 1 – 2 tahun. 3. Berat badan sapi lokal 100 – 150 kg dan sapi persilangan 250 – 350 kg. b. Kandang Kandang yang disediakan harus memenuhi syarat sebagai berikut: 1. Rencanakan terlebih dahulu jumlah kandang yang dibangun sesuai dengan jumlah dan jenis sapi yang akan dipelihara. 2. Kandang harus kuat, memenuhi syarat kesehatan, mudah dibersihkan, mempunyai drainase yang baik, siklus udara yang bebas yang dilengkapi tempat pakan dan minum sapi serta bak desinfektan. 3. sistem kandang dibuat berkoloni/berkelompok dan setiap kelompok berisi 5 – 10 ekor sapi dengan luas ruang 10 – 20 m persegi. 4. Jarak antar kandang dan kandang lain minimal 10 m dan jarak kandang dengan tempat penampungan limbah/kotoran sapi minimal 25 m. Kandang harus selalu mendapatkan sinar matahari pagi yang masuk ke kandang. c. Pakan 1. Pemberian pakan hijauan segar minimal 10% dari berat badan dan pakan konsentrat/penguat 0,4% dari berat badan. Pemberian pakan diberikan 2x sehari. 2. Dalam menyusun ransum agar memperhatikan keseimbangan zat-zat makanan yang dapat dicerna dalam ransum. Zat-zat makanan dasar adalah energi dan lemak, protein, mineral dan vitamin serta serat kasar. 3. Kebutuhan energi, protein dan mineral untuk penggemukan sapi potong jantan untuk tujuan pemeliharaan dan pertumbuhan adalah sebagai berikut: d. Penanganan Hasil 1. Lama/waktu penggemukan sapi potong berkisar antara 3 – 6 bulan sesuai umur dan kondisi sapi pada waktu mulai digemukkan; minimal 1 bulan terakhir sebelum dipasarkan, pemberian ransum konsentrat ditingkatkan dari pemberian biasa dan pakan hijauan dikurangi dari pemberian biasa dan pakan hijauan dikurangi dari pemberian biasa serta penggunaan antibiotik dan obat-obatan diharapkan memperhatikan waktu henti obat. 2. Dilarang memperjual belikan daging yang berasal dari sapi potong selama masa pengobatan antibiotik atau hormon untuk konsumsi manusia, kecuali ternak tersebut dipotong sesuai dengan ketentuan obat yang digunakan. 3. Sapi yang sudah siap dipasarkan harus dijaga sedemikian rupa jangan sampai sapi tersebut cedera/cacat. Bobot badan saip jual minimal sapi lokal 250 kg dan persilangan atau impor 350 kg. Pengawasan1. Sistem Pengawasan Perlu menerapkan sistyem pengawasan secara baik dan periodik dalam proses produksi untuk mengantisipasi dan mengawasi kemungkinan adanya penyakit dan kontaminasi lainnya. 2. Pencatatan Dalam pencatatan, data-data yang diperlukan adalah: a. Data usaha sapi potong dengan sistem ranch: (1) Populasi ternak (Induk, pejantan, anak dara dan jantan muda); (2) Ternak betina bunting; (3) Ternak yang lahir (jantan dan betina); (4) Obat dan vaksin yang digunakan; (5) Data vaksin; (6) Data deepping; (7) Data kematian sapi (anak, muda, induk dan pejantan); (8) Jumlah Pekerja; (9) Penjualan ternak. b. Data usaha penggemukan sapi potong dengan sistem dikandangkan: (1) Populasi ternakyang digemukkan perperiode; (2) Obat dan vaksin yang digunakan; (3) Feed additive (obat yang dicampurkan dalam pakan) yang digunakan; (4) Pakan konsentrat yang diberikan perperiode; (5) Jumlah Pekerja; (6) Penjualan ternak perperiode. 3. Pelaporan a. Peternak sapi potong wajib membuat laporan dan melaporkan setiap enam bulan sekali secara berkala kepada instansi berwenang guna untuk diketahui dan pengawasan. b. Usaha sapi potong wajib membuat laporan secara tertulis setiap 6 bulan sekali guna perbaikan dan perubahan berdasarkan laporan yang ada. Mudah-mudahal tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Urine Sapi untuk Pestisida

URINE sapi sebaiknya tidak dibuang. Sebab, urine yang berbau menyengat hidung itu ternyata laku dijual untuk pestisida alami. Ingin bukti? Datang saja ke kelompok tani Mulyo asuhan Sucipto Sudarno di Dukuh Termas Desa Gringging Kecamatan Sambungmacan, Sragen.

Anggota kelompok tani yang mengelola peternakan sapi itu selalu menampung urine sapi untuk dimanfaatkan sebagai pestisida alami.

''Urine yang sudah kami olah dengan empon-empon kami jual Rp 2.000/liter,'' tutur Kusno, anggota kelompok tani Mulyo, kemarin. Tidak sembarang cairan bisa dicampur dengan empon-empon (rempah-rempah).

Sebelum dijual, tentu saja urine harus di oplos dengan empon-empon seperti campuran kunyit, kencur, jahe, dan temu ireng. Sesuai dengan standar pengolahan, 100 liter urine dicampur dengan 10 kg empon-empon. Setelah dicampur dan diolah sedemikian rupa, cairan ditampung dalam tong plastik didiamkan selama empat hari. Setelah itu, cairan tersebut siap dijual ke pasaran. Harga pestisida curah itu bisa laku Rp 2.000 - Rp 4.000/liter. Bahkan ada peternak asal Boyolali yang membeli urine di Sragen dan mengemasnya kembali untuk dijual Rp 8.000 - Rp 12.000 per liter. Kelompok tani Mulyo kewalahan menerima pesanan pestisida alami itu. Sebab produksi urine sapi dari kelompok tani itu terbatas.

''Karena itu, kami juga mau membeli urine asli dari peternak sapi yang lain,'' katanya.

Pembasmi Hama

Apa manfaat urine hingga bisa laku keras di pasaran? Pestisida alami itu ternyata bisa mengusir dan membunuh hama tanaman. Penyemprotan dilakukan cukup mudah, yakni menggunakan sprayer yang biasa dipakai petani untuk menyemprotkan pestisida berbahan kimia.

Empat liter pestisida alami disaring dan dimasukkan ke tabung sprayer kemudian disemprotkan merata di tanaman padi milik petani.

''Hasilnya tidak diragukan lagi, hama wereng dan penggerek batang yang tersemprot pestisida buatan itu akan mati dalam 2-3 hari,'' kata Kusno. Anehnya, cacing tanah, belalang, atau serangga predator alami hama padi ternyata tidak ikut mati jika tersemprot pestisida buatan itu.

Disarankan saat menuang cairan ke dalam sprayer menggunakan penutup hidung karena bau pembasmi hama itu sangat tajam. Kusno mengaku, para anggota kelompok tani Mulyo mendapatkan keahlian membuat pestisida alami itu dari Sekolah Lapang Pengendalai Hama Terpadu (SLPHT) di LPH Palur, Karanganyar. (Anindito AN-16n)